Sabtu, 14 Mei 2016

Kenali Tokoh-Tokoh Pelopor Hari Kebangkitan Nasional



Hari Kebangkitan Nasional jatuh setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Makna dari kebangkitan nasional itu sebenarnya adalah titik awal bangkitnya rasa persatuan dan kesatuan setelah tempaan 350 tahun masa penjajahan.

Pergerakan tersebut tentunya tidak terjadi begitu saja. Ada pihak-pihak yang menjadi pelopor tergeraknya rasa persatuan dan kesatuan untuk bangkit. Tokoh-tokoh berikut adalah pelopornya.


1. Sutomo





Tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo ini memang tokoh yang banyak berpengaruh pada perjuangan rakyat, khususnya rakyat Surabaya. Masih ingatkah kamu pidatonya yang begitu menggebu-gebu untuk membangkitkan semangat arek-arek Surabaya?

Saat itu di tahun 1945, Bung Tomo hendak membangkitkan rasa persatuan guna mengusir NICA, peristiwa inilah yang menjadi asal muasal peringatan hari Pahlawan pada 10 November.

2. Ir. Soekarno



Salah satu Bapak Bangsa ini memang tidak perlu diragukan lagi peranannya. Tokoh yang juga dikenal sebagai orator handal yang bisa menggerakan emosi siapapun yang mendengarnya, ikut tergugah dan memiliki satu visi misi terhadap esensi pidato yang disampaikan.

Tokoh proklamator Indonesia, pencetus pancasila, dan membina hubungan internasional merupakan peranan Soekarno. Bahkan, Soekarno yang menerapkan gerakan non-block kala itu berhasil bekerja sama dengan Uni Soviet -sekarang Rusia- dan namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Rusia.

3. Dr. Cipto Mangunkusumo


Salah satu tokoh "tiga serangkai", pendiri Indische Partij, salah satu organisasi politik pertama yang rajin melontarkan kritik terhadap pemerintahan. Sikap kiritsnya memang sudah tampak sejak bersekolah di STOVIA. Banyak tulisan-tulisan dirinya yang memuat kritik ketidakpuasan akan pemerintahan Belanda yang sedang berjalan saat itu.

Tulisan-tulisannya dimuat di De Locomotief, suratkabar harian kolonial yang berkembang saat itu. Fokus tulisan darinya berada di topik sistem pemerintahan, juga diskriminasi yang dilakukan terhadap pribumi. Karena tulisannya tersebut, Cipto sering mendapat teguran dari pemerintah. Bukan berhenti, beliau malah keluar dari dinas pemerintah dan diharuskan membayar uang ikatan dinasnya yang tidak sedikit jumlahnya.

4. Ki Hajar Dewantara




Tokoh yang terkenal peranannya di dunia pendidikan. Bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, menjadi Ki Hajar Dewantara sejak tahun 1922. Tidak hanya berperan dalam dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantara juga seorang politisi dan kolumnis. Juga tokoh "tiga serangkai" pendiri Indische Partij.

Langkah terbesarnya dengan mendirikan Taman Siswa. Lembaga yang membuka kesempatan bagi rakyat jelata untuk memperoleh pendidikan yang layak. Seperti yang kita tahu, saat era kolonial tidak semua orang pribumi bisa mengenyam pendidikan. Hanya anak-anak dari bangsawan dan orang-orang berpengaruh yang diizinkan duduk di bangku sekolah.

5. dr. Douwes Dekker



Pria kelahiran Pasuruan ini pelengkap tokoh "tiga serangkai" yang bersama mendirikan Indische Partij. Penulis kritik tentang pemerintah, wartawan, serta aktivis politik menjadi hal-hal yang mengidentikkan diri dengan tokoh yang memiliki nama lengkap dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker ini. Selain itu, beliaulah penggagas nama Nusantara sebagai tanah Hindia Belanda yang merdeka.

Dari kelima tokoh Hari Kebangkitan Nasional yang telah dijabarkan sebelumnya, kamu minimal bisa mengambil satu atau dua poin mengenai makna dari kebangkitan nasional itu sendiri. Mereka berpikir dengan begitu lugas saat situasi sulit, saat sudah mudah seperti sekarang seharusnya pemikiran yang tercetus dapat lebih mungkin untuk direalisasikan.

Kisah Soetomo


Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun)[1] lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Masa Muda
Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang.

Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Pemimpin Perjuangan Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. 

Peringati Harkitnas, DPR Gelar Pameran Keris Nusantara


Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), DPR menggelar Pameran Keris Nusantara. Pameran yang diadakan di ruang utama Gedung Nusantara, Komplek DPR, Senayan, Jakarta Selatan ini akan berlangsung dari 20-24 Mei 2015.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan, pameran keris ini digelar dalam rangka melestarikan kebudayaan nusantara. Selain itu, melalui pameran ini, DPR ingin memberi akses yang lebih besar bagi masyarakat agar lebih dekat dengan DPR.

"Keris ini khas asli Indonesia. Kita harapkan ini diapresiasi oleh seluruh bangsa Indonesia, dimulai dari anggota DPR. Kita juga ingin buka DPR untuk pameran kebudayaan," kata Fadli di lokasi, Rabu (20/5/2015).

Pameran yang mengambil tema 'Keris Nusantara Sebagai Simbol Kebangkitan Bangsa' dibuka oleh Fadli Zon dan Ketua DPR Setya Novanto. Mayoritas keris yang dipamerkan berasal dari Fadli Zon Library.

Selain itu, ada pula beberapa tokoh yang juga memajang koleksinya. Diantaranya, Anggota DPR Fraksi PKB Lukman Edy, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Pengacara Senior Adnan Buyung Nasution.
Up